12 Februari 2026

Dugaan Perundungan di Sekolah Rakyat Kotim, Komisi III DPRD Minta Pengawasan Diperketat

 Dugaan Perundungan di Sekolah Rakyat Kotim, Komisi III DPRD Minta Pengawasan Diperketat

ISUINDONESIA.COM, SAMPIT – Komisi III DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyoroti serius dugaan kasus perundungan (bullying) yang dialami seorang siswa Sekolah Rakyat Kotim.

Legislator meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait segera melakukan penelusuran mendalam untuk memastikan keamanan dan kenyamanan seluruh peserta didik.

Anggota Komisi III DPRD Kotim, SP Lumban Gaol, menyebut kasus ini tidak boleh dianggap sepele, mengingat Sekolah Rakyat merupakan program baru dengan sistem pembinaan yang berbeda dari sekolah umum.

“Dinas terkait harus segera turun mengecek kebenaran informasi itu. Guru, pembina asrama dan kepala sekolah harus punya kepekaan lebih terhadap kondisi peserta didik,” kata Gaol, Senin 20 Oktober 2025.

Ia menegaskan, konsep pendidikan Sekolah Rakyat memang dirancang untuk melatih karakter, disiplin, dan kemandirian siswa.

Karena itu, pengelolaan program ini membutuhkan pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penyimpangan yang justru merusak tujuan awal pembentukannya.

“Ini sekolah baru, konsepnya juga baru. Maka harus dipegang dengan serius dan penuh tanggung jawab. Jangan sampai minimnya pengawasan malah memunculkan persoalan seperti dugaan perundungan ini,” tegasnya.

Gaol juga mengingatkan bahwa para siswa datang dari latar belakang keluarga dan daerah yang berbeda-beda.

Itu membuat peran pengasuh dan guru asrama menjadi krusial dalam mencegah gesekan maupun tindakan tidak menyenangkan antar siswa.

“Perlu pembinaan yang sabar dan berkelanjutan. Anak-anak itu butuh diajarkan nilai kebersamaan, saling menghargai, dan bagaimana berinteraksi dengan baik,” ujarnya.

Siswa Mengaku Dipukul, Keluarga Sebut Anak Trauma

Dugaan perundungan mencuat setelah seorang siswa Sekolah Rakyat Kotim berinisial P dikabarkan enggan kembali bersekolah. P dijemput keluarga dengan kondisi mata lebam dan mengaku sempat dipukul oleh teman sekelasnya.

Tante korban, berinisial W, menyebut kejadian tersebut membuat P ketakutan hingga memilih untuk sementara tinggal bersama neneknya.

“Kami khawatir, karena waktu dijemput P tidak seperti biasanya. Matanya lebam, dan dia cerita sempat dipukul,” ujar W dalam keterangannya.

Pihak Sekolah Klaim Tidak Temukan Indikasi dalam Rekaman CCTV

Kepala Sekolah Rakyat Kotim, Nikkon Bhastari, mengatakan pihaknya sudah meninjau rekaman CCTV namun tidak menemukan adanya indikasi perundungan.

Menurutnya, P merupakan anak yang aktif dan ceria, dan selama ini pihak sekolah telah menerapkan pendidikan anti-perundungan karena siswa berasal dari berbagai daerah dengan latar belakang yang beragam.

“Pembinaan di sini memang lebih intens. Kami selalu mengajarkan bagaimana cara bergaul yang baik, tanpa perundungan,” jelasnya.

Meski begitu, pihak sekolah berencana mendatangi rumah nenek P untuk memastikan kondisi yang sebenarnya sekaligus berdialog dengan keluarga.

isuIndonesia.com

Related post