12 Februari 2026

Ketua DPRD Kotim Serukan Penguatan Gotong Royong dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi

 Ketua DPRD Kotim Serukan Penguatan Gotong Royong dalam Apel Kesiapsiagaan Bencana Hidrometeorologi

ISUINDONESIA.COM, SAMPIT – Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Rimbun menghadiri Apel Kesiapsiagaan Lintas Sektoral menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang digelar di Taman Kota Sampit, Rabu 5 November 2025.

Kegiatan ini melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, hingga berbagai instansi pendukung penanggulangan bencana.

Dalam kesempatan itu, Rimbun menegaskan bahwa upaya pencegahan bencana tidak bisa dibebankan hanya kepada pemerintah. Kesiapsiagaan, menurutnya, membutuhkan kesadaran kolektif antara aparat dan masyarakat, terutama dalam menghadapi puncak musim hujan.

“Bencana tidak mengenal batas administrasi. Menjaga drainase, membersihkan lingkungan, memastikan aliran air tidak tersumbat—itu tugas bersama. Kalau semua bergerak, dampak banjir dapat ditekan,” tegasnya.

Ia menyoroti wilayah perkotaan seperti Baamang dan Ketapang yang kerap mengalami genangan saat curah hujan tinggi. Karena itu, kolaborasi lintas instansi perlu diperkuat, namun kecakapan masyarakat dalam pencegahan juga harus meningkat.

“Kesadaran warga sama pentingnya dengan kesiapan pemerintah. Kita perlu satu pemahaman bahwa pencegahan bencana adalah kerja bersama, bukan sebatas tanggung jawab formal pemerintah,” tambahnya.

Rimbun juga mengajak masyarakat menghidupkan kembali budaya gotong royong sebagai fondasi membangun daerah yang tangguh menghadapi ancaman hidrometeorologi. Ia menilai, ketahanan menghadapi musim hujan dimulai dari disiplin menjaga lingkungan.

“Kalau kesadaran itu tumbuh dari diri sendiri, musim hujan bukan lagi ancaman besar. Justru akan muncul solidaritas untuk saling melindungi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengingatkan bahwa ancaman hidrometeorologi semakin nyata. Berdasarkan data BMKG, Kotim berpotensi dilanda hujan ekstrem, banjir, angin kencang, hingga titik rawan longsor.

“Ini bukan hanya tugas institusi, tetapi panggilan kemanusiaan. Kita harus bersiap, karena cuaca ekstrem tidak bisa diprediksi secara sempurna,” ucapnya.

Apel kesiapsiagaan juga disertai pengecekan personel dan peralatan penanggulangan bencana dari seluruh unsur yang terlibat. Langkah ini menjadi penanda bahwa koordinasi lintas lembaga tetap menjadi instrumen utama menghadapi musim penghujan.

isuIndonesia.com

Related post